NOVEL : TENTANG HIDUP BAB 2 ( Part 1 )
Bab 2
NEGOSIASI ULUNG
Dituis oleh : Ben Susilo
NEGOSIASI ULUNG
Dituis oleh : Ben Susilo
“Ben, bukan ?
Seorang pemuda yang memiliki karir sangat cemerlang di usia yang belum genap
tiga puluh tahun. Menjadi Direktur Keuangan di perusahaan multinasional
terbesar dan juga anggota club mobil Mercy di Jakarta. Apakah ada yang salah ?”
Ujar Albert seperti hendak menunjukkan betapa ia sangat mengenalku dan
kehidupanku.
Aku terdiam
sejenak. Sebenarnya siapa pria bernama Albert ini ? dan kenapa dia tahu banyak
tentang kehidupanku.
“I.. iya.
Betul yang Pak Albert katakan.” Jawabku sedikit ragu. Aku terbiasa memberikan
konsultasi dan nasihat ke banyak orang. Namun kali ini aku seperti seorang yang
sedang diinterogasi oleh orang yang mengerikan. Aam hanya mematung di sampingku
sambil memainkan makanan sejak tadi.
“Langsung
saja, karena aku tidak terlalu suka berbasa basi. Aku cukup tertarik denganmu
sejak lama. Sepertinya kamu akan sangat cocok berada di partaiku dan menjadi
salah satu kandidat partai. Dengan integritas dan pengalaman serta kemampuanmu
bernegosiasi, kamu akan mudah berkarir di dunia politik. Apalagi dengan kapal
induk kami yang sangat besar dan sangat berpengaruh di pemerintahan. Membuatmu
cepat melesat di dunia politik bukanlah hal yang sulit bagi kami.” Pria itu
menjelaskan maksud bertemu denganku dengan sangat tenang dan penuh wibawa. Aku
pun dibuat kagum dengan pembawaannya menyampaikan kepadaku.
Memang benar,
dia adalah ketua partai terbesar yang tengah berkuasa di negara ini. Membuatku
mulus berkarir di dunia politik bukanlah omong kosong belaka. Justru itu yang
membuatku berpikir seribu kali untuk menjawab tawarannya. Partai ini memang
sangat besar dan berpengaruh di negara ini. Namun, reputasi partai ini sangat
buruk di masyarakat. Banyak kader - kadernya yang terjerat korupsi dan
perbuatan asusila lainnya. Para pendukungnya juga terkenal sangat fanatik dan
arogan. Ditambah lagi aku masih belum begitu mengenal siapa Albert yang sedang
duduk di depanku ini.
“Maaf Pak,
dengan kemampuan saya yang sekarang saya merasa tidak akan mampu untuk menjadi
bagian dari partai Pak Albert. Semoga kesempatan ini datang di masa yang
mendatang.” Aku mencoba menolak dengan halus tawaran itu.
“Ah, meski aku
kagum dengan kemampuan yang kamu miliki. Tapi di dunia politik tidak hanya
tentang kemampuan. Kami banyak menelurkan kader yang sebenarnya tidak
berkompeten yang berhasil. Itulah kekuatan kami. Dengan figur pemuda sepertimu,
masyarakat akan mudah menerimamu di hati mereka.” Lanjut Pak Albert menjelaskan
dan berusaha meyakinkanku.
“Tapi saya
tidak memiliki background politik Pak, saya akan mengalami kesulitan nantinya.”
Aku masih berusaha mengelak dengan halus. Dalam situasi seperti ini bukan
kemampuan negosiasiku yang aku butuhkan. Berhadapan dengan seorang politikus
ulung, aku hanya bisa menghindar untuk tidak terjebak dalam permainan kata -
katanya. Karena dari awal aku memang tidak tertarik di dunia politik, tidak
sulit sebenarnya bagiku untuk menjawabnya. Namun penolakan secara langsung
terhadap elit politik, itu sama saja bunuh diri.
“Bayangkan,
kamu memiliki kekuasaan di suatu daerah di usiamu yang masih sangat muda.
Bukankan itu sangat luar biasa ?”
“Iya pak, itu
sangat luar biasa. tapi saya sepertinya belum siap dan belum mampu untuk terjun
ke dunia politik. Setidaknya untuk saat ini.” Jawabku mencoba meyakinkan
Albert.
“Aku yakin
kamu cukup pintar untuk mempertimbangkan. Keuntungan apa yang akan kamu
dapatkan dan kerugian apa yang akan kamu dapatkan. Dalam politik tidak ada yang
benar atau salah, yang ada hanya menang atau kalah. Kamu tahu kalau partai kami
saat ini sedang berkuasa penuh di pemerintahan. Menolak permintaan orang tua
sepertiku, kamu yang akan merugi karena kesempatan emas ini tidak akan datang
untuk kali kedua.” Pria di hadapanku menegakkan tubuhnya seolah memperlihatkan
wibawanya. Wajar saja, seorang ketua partai datang menemuiku dan menawarkan
langsung untuk bergabung tidak akan mau jika permintaanya ditolak. Kata -
katanya itu adalah ancaman bagiku, sangat halus hingga tak semua orang akan
sadar jika itu adalah sebuah ancaman.
“Akan saya
pertimbangkan.” Ucapku singkat. Tanpa sadar kalimat itu keluar begitu saja dari
bibirku. Untuk saat ini jawaban itu kurasa yang terbaik. Aku sempat melirik
kecil ke arah Aam. Dia nampak kaget dengan jawabanku, hanya terdiam serius
memperhatikan kami. Pembicaraan ini terlalu berat untuk dia pahami.
“Baiklah. Aku
tahu kamu cukup bijaksana. Aku tidak salah menemuimu hari ini. Tapi ingat, aku
tidak menyukai menunggu dalam waktu yang lama, apalagi jika dipermainkan. Jika
kamu sudah memutuskan kamu tahu bagaimana menghubungiku.” ucap pria itu sambil
berdiri dan segera meninggalkan tempat kami.
Aku hanya diam
mematung, menyadari itu adalah isyarat seolah dia ingin berkata, “Kamu harus
menerimanya, kalau tidak kamu tahu akibatnya.” Aku sempat memperhatikan sebelum
dia meninggalkan tempat kami. Kata - kata terakhirnya, “Ini untuk Dyar.”
Nama itu masih terdengar, meski diucapkans angat lamat - lamat.
Komentar
Posting Komentar