NOVEL : TENTANG HIDUP BAB I ( Part 2 )

Bab 1
BAD FEELING
Ditulis Oleh : Ben Susilo

“Bruumm…” Suara mesin mobil terdengar merdu. Kami segera meninggalkan gedung apartemen yang total memiliki ketinggian tiga puluh lantai itu.
Karena sedang akhir pekan suasana di jalanan menjadi agak lengang dibanding biasanya. Tidak ada kemacetan berkepanjangan sepanjang jalan. Hanya sesekali mobil berjalan merangkak, itu pun karena kebetulan jalan yang kami lewati sedang ada unjuk rasa sekelompok masa. Jadi, jalan yang semua terdiri dari empat ruas, satu jalur ditutup untuk digunakan masa berunjuk rasa tersebut. Kami tidak terlalu memperhatikan keramaian tersebut. Hanya sekilas terlihat spanduk tentang kesejahteraan buruh. Memang akhir - akhir ini kondisi perekonomian semakin memburuk. kenaikan harga kebutuhan pokok tidak diimbangi kenaikan upah yang diterima para pekerja. Pencabutan subsisi di berbagai sektor semakin menambah berat kehidupan masyarakat yang hidup pas - pasan. Kebijakan - kebijakan pemerintah yang cenderung menekan rakyat kecil semakin membuat situasi keruh dan menimbulkan kemarahan di masyarakat. Tidak hanya sampai di situ, perilaku para elit pemerintahan yang diluar nalar juga memiliki andil yang sangat besar timbulnya situasi seperti saat ini.

Sekitar lima belas menit mobil berjalan merayap di kepadatan jalan raya, kami tiba di pertigaan. Tanpa berfikir panjang setir mobil aku putar penuh masuk menuju jalanan perumahan di sebelah kanan jalan. Sontak manuverku yang tiba - tiba tersebut membuat pengendara lain kaget dan membunyikan klakson. Wajar saja, jika aku di posisi mereka pasti kan melakukan hal yang sama.

Jalan perumahan ini tidak terlalu lebar luasnya namun cukup untuk dilewati satu mobil dan satu motor. Namun karena ukuran mobilku yang tergolong sedan medium, aku harus berhati - hati karena di kanan kiri jalan ada lubang selokan. Jika sampai salah satu ban mobil masuk ke selokan hampir dipastikan kami berdua tidak akan bisa mengembalikan mobil ke jalurnya. Tinggal dua puluhan meter aku keluar dari jalanan sempit itu, ada mobil yang masuk dari luar. Ukurannya cukup besar sehingga tidak memungkinkan untuk masuk dengan posisi mobilku yang sudah berada di dalam. Aku sempat berfikir apakah jalan yang ku lalui ini adalah satu jalur, namun tidak ada rambu sama sekali yang menandakan ini satu jalur. Mobil Mercy E300 yang moncongnya sebagian sudah masuk ke dalam jalan gang perumahan itu menghentikan lajunya sejenak. Kemudian bergerak mundur keluar gang sambil mengedipkan lampu seolah mempersilahkan mobilku untuk keluar terlebih dahulu. Setelah sampai di luar gang dan berpapasan dengan mobil berwarna hitam tersebut aku membuka kaca jendela dan melambaikan tangan pertanda terimakasih sudah memberiku jalan. Lagi pula sepertinya aku pernah melihat mobil itu di club Mercy Owner.

Aku belum lama bergabung ke dalam club itu meski sudah sejak dulu diminta salah satu teman untuk bergabung. Namun aku cukup dikenal oleh para anggota club karena kepiawaianku dalam berbisnis. Biasanya kami berkumpul pada akhir pekan, meski aku tidak selalu rutin mengikuti rangkaian kegiatan club, teman - teman di club dengan senang hati selalu menyambutku. Kami sering melakukan balapan gokart di salah satu indoor sikuit di ibu kota. Dan aku salah satu pembalap tercepat di club. Hanya Bakthi yang mampu mendekati catatan waktuku. Kami jarang menyinggung dunia masing - masing ketika berkumpul dalam club, karena kami beranggapan semua anggota club adalah sama. Entah dari apapun latar belakang mereka. Namun aku tahu beberapa dari mereka adalah seorang yang cukup berpengaruh di pemerintahan kota. Bahkan ada petinggi kepolisian dan pemerintahan dalam anggota kami.

Aku pun melanjutakan perjalanan menuju tempat yang ditentukan politikus kemarin setelah bersapa dengan anggota club tadi. Aku tahu dia anggota club dari stiker di kap mesin mobil.

“Bray, kita diminta ke restoran seafood Orikiri.” Ucap Aam sambil menunjukkan pesan singkat whats app kepadaku.
Percuma saja karena aku juga tidak bisa membaca dengan jelas karena sedang konsentrasi mengemudi. Aku tidak bisa terlalu lama mengalihkan pandanganku ketika mengemudi.
“Ah.. ok.” Aku hanya menoleh ke arah Aam.
“Yakin Brather mau ? Bukankah Brather tidak makan seafood ?” Tanya Aam meyakinkan dengan nada ledekan khasnya.
“Tidak mungkin seorang politikus mau merubah tempat pertemuan yang sudah mereka tentukan sendiri.”
“Ah.. okelah. Nanti Brather bisa makan sayur sisaku saja kalau begitu… heee ?” Ledek Aam sambil nyengir ke arahku.

Andai aku tidak sedang mengemudi mungkin tangnanku sudah menarik kuat - kuat hidung peseknya. Hari ini sepertinya dia akan sangat puas meledekku.

Setelah sekitar sepuluh menit kami menelusuri jalanan, kami tiba di sebuah restoran seafood yang sangat mewah. Suasananya seperti memang mengundang siapapun yang lewat untuk datang ke sana. Suasana yang sejuk di tengah cuaca yang terik, hiasan - hiasan lampu  yang indah dan banyak sekali ornamen modern menghiasi sudut restoran itu. Setelah memarkir mobil di lapangan parkir yang luas tepat di depannya, kami bergegas turun dan masuk ke dalam restoran tersebut. Dari luar sudah tecium aroma masakan seafood yang sangat menyengat hidungku. Dari kecil memang kebiasaanku tidak memakan seafood. Perut dan tubuhku seolah selalu menolak jika ku isi dengan apapun jenis seafood. bahkan yang mahal sekalipun.

Setibanya di dalam restoran, kami langsung mencari orang yang meminta kami untuk datang ke sini. Namun tidak kami dapati ciri - ciri orang yang seakan menunggu kedatangan kami. Hanya beberapa kelompok keluarga yang sedang makan besar, remaja yang asik berduaan dan waiters yang berlalu - lalang ke segala arah.

Aku meminta Aam bertanya ke cashier, apakah ada orang yang menitipkan pesan jika kami datang ? Sementara aku duduk di kursi dekat jendela yang agak sepi pengunjung. Menikmati udara sejuk dari hembusan AC yang beberapa meter jaraknya dari tempatku duduk. Terlihat di luar jendela ada orang yang sedang memunguti sampah - sampah. Pakaiannya lusuh, begitu pun dengan rambut dan seluruh tubuhnya. Kasihan melihatnya, ada banyak orang yang sangat berkuasa dan mampu segalanya, memiliki tempat tinggal yang mewah namun di sisi lain tidak sedikit pula yang hidupnya berkebalikan. Beberapa saat kemudian ia duduk di bawah pohon rindang, beristirahat sejenak dari terik sengatan matahari sambil mengusap keringat yang bercucuran di tubuhnya.
“Nggak ada Bray…!” Ucap Aam sambil duduk de kursi tepat di depanku.
“Apa kita tunggu sebentar ?” Saranku.
“Boleh lah, sambil pesan minum dulu ya, haus.” Aam berkata dan langsung mengangkat tangan. Tak lama kemudian seorang waiters yang melihatnya pun berjalan ke arah kami sambil membawa buku menu.
“Silahkan bapak buku menunya. Bapak mau pesan apa ?” Tanya si waiters dengan sopannya.
Aku melihat ke arah Aam yang dari tadi seperti menahan tawa jeleknya. Sepertinya ia sudah menyiapkan ledekannya lagi. Ku kerutkan dahiku dengan maksud bertanya “ada apa kamu tertawa ?”
Aam hanya menggelengkan kepala dan masih menahan tawanya. Namun kali ini ia lebih keras menahannya bagaikan tak bisa dibendung lagi.
Setelah kami memesan beberapa menu makanan ringan dan minuman segar, waiters segera pergi dari meja kami.
“Bbbrr…”
“Apaa… ??!” Tanyaku memotong ucapan Aam yang belum selelsai ia ucapkan.
Brather hari ini keren… hahaha.” Ucap Aam sambil tertawa kembali.
“Bilang, dari tadi aku tahu kamu hendak meledek.”
“Silahkan bapak… hahaha.” Aam menirukan perkataan si waiters tadi.
“Nggak lucu… Aku dipanggil bapak bukan karena sudah tua, tapi sebagai bentuk penghormatan saja. Tau…?” Elakku. Aku tahu itu yang hendak Aam katakan yang dari tadi ia tertawakan. Memang sedikit menjengkelkan jika di luar kantor aku dipanggil bapak seolah - olah usiaku sudah tua. Mungkin memang benar wajahku ini terlalu boros untuk pria seusiaku.

Tidak lama berselang, sekelompok orang berpakaian formal datang.
“Pak…! Sebelah sini…” Teriak Aam cukup lantang sambil melambaikan tangan ke arah orang - orang yang baru datang tadi.
“Ehh… Memang kamu kenal mereka. Tidak Bray tapi orang itu yang ingin bertemu kakak. kemarin aku lupa tanya namanya… hehe.” Sahut Aam.
Kami pun berdiri menyambut mereka. Mereka menunjukkan keramahan dan sangat menghargai kami berdia. Kami pun mempersilahkan mereka duduk. Beberapa dari mereka hanya diam berdiri di belakang satu orang ber jas hitam, rambut rapih disisir kebelakang. Berkebalikan dengan keadaan kami berdua, hanya berkemeja sederhana dengan berdandan apa adanya. Aku tidak tahu bahwa kali ini akan bertemu dengan orang yang sangat tinggi dan profesional.

Terlihat dari gaya berpakaian dan beberapa ajudan yang mengawalnya nampak ia adalah seorang yang cukup memiliki kekuasaan. Disamping itu, pria ber jas hitam tersebut nampak ramah dan bersahabat. Setelah saling mengenalkan diri, kami pun cepat mengakrabkan diri meski status sosial kami berbeda.

Albert, pria itu memiliki nama yang tak asing kedengarannya olehku. Sayangnya aku tidak begitu ingat siapa Albert yang aku tahu. Hingga tiba disaat pembicaraan serius dimulai, mendadak raut wajah pria itu menjadi sangat serius. Entah kenapa aku merasakan aura yang kurang nyaman darinya. Dari pria yang sangat bersahabat, sekarang tiba - tiba saja berubah menjadi pria dengan aura yang berbahaya. Entah hanya aku yang merasakan atau Aam juga merasakannya. Yang pasti aku menjadi tidak nyaman untuk berada cukup dekat dengannya. I have a bad feeling with this .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NOVEL : TENTANG HIDUP BAB 2 ( Part 1 )

NOVEL : TENTANG HIDUP BAB I ( Part 1 )