NOVEL : TENTANG HIDUP BAB I ( Part 1 )
Bab 1
PERTEMUAN
Ditulis oleh :
Ben Susilo
“Teettt…!!!”
Terdengar bell pintu rumah memecah kesunyian
Sekilas tiada
tanda - tanda kehidupan di dalam ruangan apartemen itu.
“Teettt…
Teeettt !!!” Dua, tiga kali suara bell kembali terdengar.
“Ben…!!! Bangun
Ben… Aku tahu kamu di rumah. Jangan molor aja kamu…” Terdengar suara seorang
pemuda dari balik pintu. Aam, dia adalah adikku yang selalu ada untukku.
Sikapnya yang suka menceramahi orang terkadang membuatku sering mengabaikannya.
Namun diluar itu kami memiliki ikatan yang sangat baik. Dia beberapa tahun
lebih muda dariku. Dia adik, sahabat baikku, sekaligus partner bagiku.
***
“Yaaa…
Sebentar.” Aku menjawab panggilan Aam yang masih berada di luar pintu.
“Tit…
tiit...ttit...tiiit… ceklek.” Suara aku memencet tombol pengaman pintu dan
memasukkan kode password. Kebetulan aku tinggal di sebuah apartemen yang cukup
terkini dengan fasilitas keamanan yang cukup baik, salah satunya adalah adanya
pengaman digital lock pada pintu.
“Aiisshhh…
Bukannya kamu tahu password pengaman pintu rumahku ini ?” Kataku yang merasa
terganggu dari istirahat siang itu.
“Hehehe…
bukankah tidak sopan kalau aku masuk begitu saja ke rumah orang. Meski kamu
kakaku sendiri, namun seperti itu tetap saja tidak sopan.”
“Hmmm… sudah
lah. Ayo masuk… Salah kamu sendiri aku minta tinggal denganku di sini kamu
selalu menolak.”
“Nggak enak brather…”
Jawab Aam singkat sambil berjalan masuk ke dalam ruangan sederhana itu.
“Haahhh…” Aku
menggumam. “Ada apa pagi - pagi ke sini ?” Tanyaku dengan santai.
“Apaaa…??!!
Pagii…?” Aam berteriak agak keras. “Bangun woeyy… ini sudah jam satu. Kebiasaan
brather masih saja belum hilang kalau lagi libur kerja. Kakak belum
sho...”
“Sholat.” Aku
memotong ucapan Aam. “Sudah. Oke oke… aku mandi. Kalau mau makan ada sesuatu di
dapur, kamu bisa panasi dulu.” Aku beranjak dan bersiap ke kamar mandi. Aku
tahu jika tidak ku potong tadi, dia akan terus mengomel dan berceramah seperti
ibu - ibu yang memarahi anaknya. Sepertinya dia begitu berbakat mengomel. Mungkin
dia dulu sering dimarahi orang tua kami ketika masih kecil. Dia persis seperti
ibu kami.
“Oke… Awas
kalau cuma ada mie instan lagi di dapur brather.” Ia berkata sambil
menuju dapur.
“Hahaha…
Bawel…” Candaku sambil bergegas ke kamar mandi.
Tentu saja cuma
ada mie instan di dapur. Tidak ada alasan menyimpan jenis makanan lain bagi
orang sesibuk aku. Jangankan untuk masak, membuat teh saja aku lebih memilih
pesan dari layanan service. Selain karena sering pulang dengan badan kecapekan,
teh dari layanan service memiliki beraneka rasa.
Setelah selesai
membasuh badanku dengan air segar, dan berganti pakaian yang lebih layak, aku
bergegas ke ruang tengah untuk menemui Aam. Kalau sedang di rumah aku selalu
memakai pakaian seadanya. Maklum saja, aku tinggal seorang diri dan tidak
pandai mencuci pakaian - pakaianku sendiri. Jika menggunakan jasa laundry yang
disediakan pengelola apartemen, sangat mahal sekali biayanya. Setinggi apapun
gajiku saat ini, tetap saja aku merasa eman - eman. Kalau aku laundrykan
ke luar, tidak ada waktu untuk melakukannya. Waktuku sudah hampir habis untuk
menyelesaikan pekerjaan kantorku. Hanya sebagian yang aku cucikan ke jasa cuci
di dekat kompleks apartemen, biasanya baju - baju kerjaku. Selain itu aku
mencuci sendiri sebisaku. Karena itulah Aam selalu menyuruhku untuk segera
mencari pacar.
“Brather…
Sudah selesai belum !?” Teriak Aam dari ruang tengah.
“Sudah… ini aku
di belakangmu.” Jawabku dengan santai.
“Bray
ayo keluar. Aku mau mengenalkan brather ke seseorang.
“Apaan lagi ini
? Kamu tidak bosan mengurusi urusan pribadiku ?” Tanyaku.
“Hehehe…” Aam
menyengir seperti kebiasaannya. Terkadang aku merasa konyol dan tak bisa
menolak keinginannya kalau dia sudah nyengir seperti saat ini.
Kami segera
bersiap untuk pergi keluar. Kuambil kunci mobil yang ku letakkan di atas meja
samping tempat tidurku. Bergegas menyusul Aam yang sudah ada di luar pintu. Aku
berpikir selama berjalan di koridor apartemen kira - kira wanita seperti apa
lagi yang akan dikenalkan Aam kali ini. Terakhir kali dia mengenalkanku dengan
wanita yang aneh. Dandananya terlalu wah bagiku. Bukannya membuatku tertarik,
wanita seperti itu justru membuatku merasa geli dan sama sekali bukan tipeku.
Sebelumnya lagi, bahkan lebih parah. Dia mengenalkanku dengan seorang wanita
yang matre, baru pertama ketemu dia sudah mau duduk berdempet denganku begitu
dia tahu aku seorang Direktur Keuangan di sebuah group besar Chain Hotel
internasional. Justru itu membuatku semakin tidak simpatik dengan wanita itu.
Di luar kekonyolan itu, aku tahu Aam hanya ingin menghiburku dan sangat
perhatian kepadaku.
“Aku akan
mengambil kunci mobil dulu.”
“Oke bos…”
Sahutnya dengan santai.
Kami pun segera
bergegas meninggalkan ruangan yang berukuran sedang itu menuju lift yang berada
di ujung lorong koridor. Kebetulan kamarku berada di lantai 9 gedung apartemen
ini. Akses naik turun hanya melalui lift. Sebenarnya ada akses lain, tangga
darurat. Namun siapa yang mau memakai tangga darurat untuk naik ke lantai
sembilan.
“Thinngg…”
Suara pintu lift tertutup. Aku pun memencet tombol ke basement gedung.
“Bray… menurut
kakak orang seperti apa yang akan aku kenalkan ke Brather kali ini ?”
Tanya Aam sedikit meledek.
“Entah. Setiap
kamu mengenalkanku kepada seseorang perasaan kakak selalu merasa tidak enak.
Entah kali ini orang seperti apa yang akan kamu kenalkan ?” Jawabku menaggapi
dengan santai.
“Aahhh… Aku
jadi merasa bersalah sama kakak.”
“Hemm…
Berhentilah mengenalkanku dengan wanita -wanita yang tidak jelas. Aku sudah ada
pacar.”
“Waahhh…
sepertinya Brather mulai mengigau lagi. Selama ini pacar Brather
hanya komputer dan buku - buku.” Jawab Aam meledek.
“Aiisshh.” Dia
selalu saja bisa mematahkan kata - kataku. Untuk masalah bisnis mungkin aku
sangat ahli. Namun tidak untuk masalah seperti ini. Aku seperti orang bodoh
ketika membicarakan hal - hal seperti ini. “Memangnya siapa yang akan kita
temui kali ini ?” Aku lanjut bertanya.
“Oh iya aku
lupa menceritakan ke Brather.” Jawab Aam dengan raut muka lebih serius.
“Orang ini
katanya kenal dengan Brather. Kemarin waktu seminar di kampus dia menjadi
pembicara utama. Dia seorang politikus.”
“Politikus ?”
Tanyaku memastikan.
“Iya ...”
Aku berpikir
sejenak, mengingat siapa saja politikus yang ku kenal. Nihil, seingatku aku
tidak memiliki kenalan seorang politikus. Aku memang tahu banyak pelaku politik,
namun hanya sebatas tahu namanya saja karena aku sama sekali tidak tertarik
dalam urusan politik.
“Siapa ? Aku
tidak ada kenalan politikus sama sekali.”
“Tapi kata
orang itu dia kenal baik dengan Brather.” Aam berkata sangat yakin.
“Memangnya
bagaimana dia bisa tahu ?” Tanyaku menjadi penasaran siapa orang yang mengaku
kenal denganku.
“Waktu seminar
kemarin aku datang terlambat. Aku datang ketika sesi perwakilan mahasiswa
diminta ke depan panggung dan akhirnya aku langsung diminta ke depan. Saat
selesai acara aku tidak sengaja bertemu dengannya di depan kampus dan bertanya
dimana dan dengan siapa aku tinggal. Aku bilang kalau tinggal dengan Brather
di sini dan juga menunjukkan foto kakak.”
“Lalau
bagaimana ekspresinya setelah kamu tahu tinggal dengan aku yang ganteng ini ?”
“Ganteng ?
Jomblo iya… hahaha” Jawab Aam sambil tertawa keras. Sepertinya hari ini dia
puas sekali meledekku.
“Setelah
melihat foto kakak, dia langsung terdiam lalu pergi mengabaikanku begitu saja.
Sepertinya dia memang benar kenal dengan Brather.” Aam menjelaskan, kali
ini dengan nada serius.
Mungkin kali
ini Aam memang benar. Jika memang seseorang itu menunjukkan ekspresi demikian
kemungkinan ia kenal denganku. Hanya saja aku merasa tidak pernah memiliki
urusan dengan dunia politik.
“Entahlah.”
Ucapku datar.
“Thiingg…”
Suara lift terdengar memecah rasa penasaranku. Pintu lift pun terbuka dan kami
segera keluar menuju tempat parkir mobil.
Komentar
Posting Komentar