DENDAM PADA SI JAGO
"Kukruyuk...!"
Suara ayam jago berkokok dengan lantangnya. Padahal jam masih menunjukkan waktu dini hari. Tidak hanya sekali. Berkali - kali dia berteriak - teriak lantang mengganggu mimpi indahku malam itu.
"Eehhmmm..." Aku masih menggumam dengan mata redup. Baru seper-sepuluh kesadaran yang terkumpul.
Ayam jago kurang ajar itu masih terus berkokok lantang. Betapa tidak terganggu aku. Ia berkokok tepat di kandangnya yang terletak di samping kamarku. Bersebelahan hanya terpisahkan oleh "gedek" rumah yang terbuat dari kayu jati tua.
Gedek yang penuh bolong - bolong. namun begitu rapi tertata. Usianya berkali - kali lipat lebih tua dari usiaku. Aku menggedor papan jati yang sudah tua itu dengan kesadaran yang masih sayup - sayup hinggap di badanku, bermaksud memperingatkan si ayam jago untuk diam. Kalau tidak besok pagi awas saja, akan ku kejar dan tangkap untuk disembelih. Tau rasa.
Ayam sialan itu masih tetap berkokok. Dan kali ini semakin lantang ia. Entah ayam itu terlalu keras kepala atau aku yang kelewat bodoh berharap ayam itu bisa mengerti peringatanku.
Kebetulan malam itu aku tidur sangat larut. Padahal aku bukan anak yang suka begadang atau bermain - main sampai larut malam. Saat itu aku memang tidak bisa tidur awal seperti biasanya. Abah saat itu pergi setelah isya'. Aku hanya tinggal berdua dengan abah. Saudara - saudaraku pada pergi merantau ke provinsi tetangga. Parktis ketika Abah pergi, aku hanya sendirian di rumah.
Beruntung aku berjiwa pemberani. Tidak pernah protes ketika Abah meninggalkanku sendirian di rumah. Bahkan ketika malam hari.
Tidak ada TV di rumah. Atau pun smartphone seperti sekarang. Tidak ada sarana hiburan sama sekali. Tiap kali aku di rumah sendirian, aku selalu mengunci pintu rumah dari dalam. Bukan apa - apa hanya berjaga - jaga supaya tidak ada setan yang nyasar bertamu malam - malam ke rumah. Satu yang membuatku heran, ketika aku bangun pagi Abah sudah berada di dalam rumah. Entah dari mana Abah masuknya. Mungkin Abah memiliki ilmu tembus dinding yang diwariskan oleh Kakek. Konon, kakekku adalah orang yang memiliki ilmu kuno peninggalan jaman nenek moyang. Bahkan bisa kebal. Hebat bukan ?
Selain itu, aku memiliki kebiasaan lain ketika sendirian di rumah. Kebiasaan itu yang membuatku sama sekali tidak takut dengan setan. Aku selalu membawa Al-Qur'an di rumah. Selalu ada Al-Qur'an yang menjadi teman sejatiku. Bahkan ketika berada di tempat tidur, aku selalu membawanya. Berjaga - jaga kalau ada setan yang mengganggu, mereka ketakutan melihat Al-Qur'an yang kudekap erat - erat. Bahkan ketika aku tiduran pun, aku menaruhnya di atas dadaku dengan posisi terbuka. Sejak saat itu aku mengerti. Bahwa Al-Qur'an membawa ketenangan bagi yang meyakininya.
Namun belakangan ini ketika aku ingat - ingat kembali waktu itu. Geli. Setan takutnya dengan orang yang memiliki iman yang tangguh. Betapa pecundangnya aku waktu itu.
Setelah setengah jam lebih berkokok, akhirnya si jago tadi mulai kelelahan. Perlahan - lahan suaranya mulai sayup terdengar dan lama kelamaan hilang tak terdengar. Entah karena memang sudah berhenti, atau karena aku sudah kembali terlelap.
Terasa singkat tidurku malam itu. Tiba - tiba ada seseorang yang menggoyang goyangkan badanku. Aku masih samar - samar tersadar.
"Eehhmm..." Aku hanya menggeram.
Semakin keras pula ia menggoyangkan badan mungilku.
"Subuhan..." Ucap Abah tegas. Kali ini giliran Abah yang mengganggu tidurku. Sungguh, aku benar - benar kesal dengan si Jago tadi. Niatku sudah bulat untuk memburunya nanti. Saat pertempuran dahsyat hampir tiba.
...
Bersambung.
Suara ayam jago berkokok dengan lantangnya. Padahal jam masih menunjukkan waktu dini hari. Tidak hanya sekali. Berkali - kali dia berteriak - teriak lantang mengganggu mimpi indahku malam itu."Eehhmmm..." Aku masih menggumam dengan mata redup. Baru seper-sepuluh kesadaran yang terkumpul.
Ayam jago kurang ajar itu masih terus berkokok lantang. Betapa tidak terganggu aku. Ia berkokok tepat di kandangnya yang terletak di samping kamarku. Bersebelahan hanya terpisahkan oleh "gedek" rumah yang terbuat dari kayu jati tua.
Gedek yang penuh bolong - bolong. namun begitu rapi tertata. Usianya berkali - kali lipat lebih tua dari usiaku. Aku menggedor papan jati yang sudah tua itu dengan kesadaran yang masih sayup - sayup hinggap di badanku, bermaksud memperingatkan si ayam jago untuk diam. Kalau tidak besok pagi awas saja, akan ku kejar dan tangkap untuk disembelih. Tau rasa.
Ayam sialan itu masih tetap berkokok. Dan kali ini semakin lantang ia. Entah ayam itu terlalu keras kepala atau aku yang kelewat bodoh berharap ayam itu bisa mengerti peringatanku.
Kebetulan malam itu aku tidur sangat larut. Padahal aku bukan anak yang suka begadang atau bermain - main sampai larut malam. Saat itu aku memang tidak bisa tidur awal seperti biasanya. Abah saat itu pergi setelah isya'. Aku hanya tinggal berdua dengan abah. Saudara - saudaraku pada pergi merantau ke provinsi tetangga. Parktis ketika Abah pergi, aku hanya sendirian di rumah.
Beruntung aku berjiwa pemberani. Tidak pernah protes ketika Abah meninggalkanku sendirian di rumah. Bahkan ketika malam hari.
Tidak ada TV di rumah. Atau pun smartphone seperti sekarang. Tidak ada sarana hiburan sama sekali. Tiap kali aku di rumah sendirian, aku selalu mengunci pintu rumah dari dalam. Bukan apa - apa hanya berjaga - jaga supaya tidak ada setan yang nyasar bertamu malam - malam ke rumah. Satu yang membuatku heran, ketika aku bangun pagi Abah sudah berada di dalam rumah. Entah dari mana Abah masuknya. Mungkin Abah memiliki ilmu tembus dinding yang diwariskan oleh Kakek. Konon, kakekku adalah orang yang memiliki ilmu kuno peninggalan jaman nenek moyang. Bahkan bisa kebal. Hebat bukan ?
Selain itu, aku memiliki kebiasaan lain ketika sendirian di rumah. Kebiasaan itu yang membuatku sama sekali tidak takut dengan setan. Aku selalu membawa Al-Qur'an di rumah. Selalu ada Al-Qur'an yang menjadi teman sejatiku. Bahkan ketika berada di tempat tidur, aku selalu membawanya. Berjaga - jaga kalau ada setan yang mengganggu, mereka ketakutan melihat Al-Qur'an yang kudekap erat - erat. Bahkan ketika aku tiduran pun, aku menaruhnya di atas dadaku dengan posisi terbuka. Sejak saat itu aku mengerti. Bahwa Al-Qur'an membawa ketenangan bagi yang meyakininya.
Namun belakangan ini ketika aku ingat - ingat kembali waktu itu. Geli. Setan takutnya dengan orang yang memiliki iman yang tangguh. Betapa pecundangnya aku waktu itu.
Setelah setengah jam lebih berkokok, akhirnya si jago tadi mulai kelelahan. Perlahan - lahan suaranya mulai sayup terdengar dan lama kelamaan hilang tak terdengar. Entah karena memang sudah berhenti, atau karena aku sudah kembali terlelap.
Terasa singkat tidurku malam itu. Tiba - tiba ada seseorang yang menggoyang goyangkan badanku. Aku masih samar - samar tersadar.
"Eehhmm..." Aku hanya menggeram.
Semakin keras pula ia menggoyangkan badan mungilku.
"Subuhan..." Ucap Abah tegas. Kali ini giliran Abah yang mengganggu tidurku. Sungguh, aku benar - benar kesal dengan si Jago tadi. Niatku sudah bulat untuk memburunya nanti. Saat pertempuran dahsyat hampir tiba.
...
Bersambung.
Komentar
Posting Komentar